Skincare e-commerce Indonesia adalah pasar sekitar USD 78 juta per bulan per Mei 2026, tumbuh sekitar 15% dibanding tahun lalu, dan dipimpin oleh brand lokal Indonesia — bukan pemain global — menurut pelacakan tingkat-SKU Magpie IQ di Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, dan Lazada. Tidak ada satu brand pun yang menguasai bahkan 7% pasar. Artikel ini memeringkat brand skincare terlaris berdasarkan GMV nyata, menunjukkan pembagian pasar per platform dan per segmen produk, serta menandai siapa yang sedang naik dan turun.

Seberapa besar kategori skincare di e-commerce Indonesia?

Skincare adalah sub-pasar terbesar dalam Beauty & Personal Care di Indonesia. Selama tiga bulan terakhir (Maret–Mei 2026), total GMV skincare sekitar USD 240 juta, dengan sekitar 8.900 brand aktif bersaing — salah satu kategori konsumen paling terfragmentasi yang kami lacak. Permintaan bersifat musiman, memuncak sekitar Harbolnas akhir tahun (11.11 / 12.12) hampir USD 90 juta dalam satu bulan.

Siapa brand skincare dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia?

Diperingkat dari GMV selama Maret–Mei 2026, sebagai persentase dari total GMV skincare e-commerce Indonesia, menurut data Magpie IQ:

#BrandPangsa pasarAsal · tier
1Glad2Glow6,3%Lokal · mass
2Wardah4,6%Lokal · mass
3Skintific4,4%Lokal · mass-premium
4Skin10043,7%Impor Korea · premium
5Cetaphil2,6%Derma global
6Facetology2,3%Lokal
7Hanasui2,1%Lokal · value
8Scora2,0%Lokal
9Garnier2,0%Mass global
10La Roche-Posay1,9%Derma premium global

Lima brand teratas bersama-sama menguasai sekitar 21,6% pasar, dan sepuluh teratas sekitar 31,9% — dua pertiga sisanya tersebar di ribuan brand. Pola yang paling mencolok: brand lokal Indonesia memimpin. Enam dari sepuluh teratas — Glad2Glow, Wardah, Skintific, Facetology, Hanasui, dan Scora — adalah brand lokal, dengan Kahf, Azarine, MS Glow, dan Emina tepat di bawahnya. Pemain global (Garnier, Cetaphil, La Roche-Posay) dan impor Korea (Skin1004, Cosrx, Hada Labo) bersaing tetapi tidak memimpin.

Platform mana yang menjual skincare terbanyak di Indonesia?

GMV skincare per platform, Maret–Mei 2026, menurut data Magpie IQ:

  • Shopee — ~60%. Marketplace skincare yang dominan.
  • Ekosistem Tokopedia — ~27%, hampir seluruhnya melalui etalase terkurasi Tokopedia | Shop (Mart).
  • TikTok Shop — ~10,5% dan terus naik, kanal yang nyaris tidak ada sebelum 2024.
  • Lazada dan Blibli — di bawah 2% gabungan.

Bagi sebuah brand, implikasinya jelas: pangsa skincare di Indonesia sebagian besar dimenangkan di Shopee dan makin diperebutkan di TikTok Shop — brand yang absen di TikTok Shop melepaskan bagian permintaan yang tumbuh paling cepat.

Apa yang laku di dalam kategori skincare?

Berdasarkan GMV, kategori ini dipimpin oleh Moisturizer (~21%), Facial Serum (~18,5%), Sunscreen (~17%), dan Face Cleanser (~17%) — bersama-sama sekitar tiga perempat penjualan skincare. Serum adalah mesin premium (nilai per unit tinggi); cleanser adalah mesin volume. Yang menarik, skincare pria adalah ~12% pasar yang nyata (facial wash dan moisturizer pria), dengan brand khusus seperti Kahf dan Barber Daily di antara pemimpinnya.

Siapa yang sedang naik dan turun?

Membandingkan tiga bulan terakhir dengan tiga bulan sebelumnya, sang pemimpin Glad2Glow sedang melambat sementara penantang Skintific dan Scora justru berakselerasi. Brand derma Korea dan global — Skin1004, Cosrx, D'Alba, dan Cetaphil — semuanya naik, sinyal premiumisasi dan tren "skin-barrier" yang jelas. Beberapa brand value lokal lama (Pond's, Hanasui, Scarlett) melunak. Pangsa pasar di puncak kategori ini sedang berotasi aktif.

Tentang data ini

Angka dalam artikel ini bersumber dari platform intelijen e-commerce Magpie IQ, yang melacak penjualan tingkat-SKU di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Lazada, Blibli, dan Bukalapak di Indonesia. GMV (Gross Merchandise Value) dihitung sebagai harga setelah diskon × unit terjual. Pangsa pasar adalah GMV sebuah brand sebagai persentase dari total GMV kategori yang dilacak selama Maret–Mei 2026. Cakupan platform: Shopee sejak 2023; Tokopedia, Tokopedia | Shop, TikTok Shop, dan Blibli sejak 2024. Peringkat mencerminkan transaksi nyata, bukan survei atau estimasi panel.